MENGUSIR MAHASISWA, SIAPA TAKUT?

Based on True Story

Lima belas menit. Baru lima belas menit setelah kelas dimulai, kelas itu menjadi sangat gaduh. Bak sidang anggota dewan, dua kelompok siswa bertikai ramai. Salah satu siswa bahkan menantang siswa lain untuk berkelahi. Baku hantam hampir saja terjadi. Semuanya dipicu oleh adanya dugaan tindak kecurangan yang dilakukan oleh salah satu kelompok siswa pada saat pelaksanaan tugas. Dengan setengah panik, mataku pun sibuk menjelajahi sudut-sudut ruangan guna mencari instruktur kelas hari itu.

Instruktur hari itu adalah seorang pria berperawakan tegap. Gurat di wajahnya yang halus menunjukkan usianya yang masih terbilang muda. Sambil bersandar di sudut ruangan dengan kedua tangan yang dimasukkan ke dalam saku celana, wajahnya tampak serius mengamati jalannya pertengkaran. Namun demikian Ia sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda akan melakukan campur tangan. “Wah cilaka’, gimana nih urusannya?”. Aku pun meringis kebingungan.

Peristiwa itu mengawali hariku sebagai pengamat kelas pelatihan kewirausahaan yang diselenggarakan oleh YEA (Young Entrepreneur Academy). Di YEA, seorang siswa akan menjalani berbagai pelatihan kewirausahaan, soft skills dan hard skills, selama 6 bulan. Salah satu bentuk tempaan yang diberikan YEA pada siswanya adalah melalui kompetisi penjualan (selling competition). Pada selling competition, setiap kelompok siswa diminta untuk menjual satu jenis produk dalam periode waktu tertentu. Sebagai tambahan, para siswa juga diberikan sasaran omzet dan keuntungan. Kompetisi inilah yang akhirnya menghasilkan keributan pagi tadi.

Pada akhir masa pelatihan, para siswa dinyatakan “lolos” apabila sanggup menyelesaikan masa pelatihan. Setelahnya, para “lolosan” akan menjalani masa pendampingan dalam menjalankan bisnisnya masing-masing. Lolos dan lolosan? Ya, lolos dan lolosan merupakan istilah yang digunakan untuk menyatakan bahwa sesungguhnya para siswa belum “lulus” hanya dengan menyelesaikan masa pelatihan. Para siswa dinyatakan “lulus” apabila, dan hanya apabila, bisnis yang dibangunnya mampu menghasilkan omzet senilai Rp. 7.500.000 per bulan. Tunggu, rasanya ada yang keliru. Bukan 7 juta lima ratus ribu. Yang benar adalah mampu menghasilkan omzet senilai 75 juta rupiah per bulan selama 3 bulan berturut-turut. Nah itu.

Saat makan siang, di kantin bernuansa gazebo yang tidak jauh dari tempat pelatihan, aku kembali bertemu dengan instruktur yang kelasnya kuhadiri pagi tadi. Kudekati meja instruktur itu sambil menyapanya dengan sopan sebelum akhirnya aku duduk dan meletakkan piring makananku di meja tersebut. Beberapa menit kemudian, bahkan sebelum mulutnya selesai mengunyah makanan, aku memberanikan diri menanyakan sikapnya yang “terlalu santai” saat menghadapi konflik antar siswa pagi ini. Dengan mulut terkatup dan senyum lebar, Ia pun bergegas menelan makanannya dan menjawab, “Itu memang skenario yang sengaja kami buat” ujarnya singkat. “Apaa… Cuma rekayasa?!” seruku dalam hati. Seolah menangkap rasa terkejutku, Ia pun lantas melanjutkan, “Iya, kami memang sengaja menciptakan konflik antar siswa karena sebagai pengusaha kelak mereka akan sering menemui konflik semacam itu di dunia nyata.” Kata-kata itu membuka mataku.

Pada hari itu, akhirnya kutemui suatu jenis pembelajaran yang begitu nyata melampaui batas ruang kelas. Suatu pembelajaran yang melepas sekat-sekat antara pikiran, emosi, dan tubuh. Suatu pembelajaran berlandaskan pengalaman nyata (experiential learning). Bukan dengan mengundang praktisi sebagai dosen ke dalam ruang kelas tetapi “mengusir” mahasiswa ke luar kelas, menjadikan mereka sebagai praktisi yang berguru pada pengalaman, dan mengembalikan mereka ke ruang kelas untuk mengekstraksi hikmah dari pengalaman tersebut serta membagikannya pada siswa lain.

Sebagai dosen minim pengalaman, aku mulai menyadari bahwa pembelajaran yang berlangsung di kelas-kelasku begitu monoton. Demikian pula cerita-cerita yang kudengar dari para mahasiswa tentang kelas-kelas lain yang mereka ikuti. Pada umumnya, pembelajaran dipandang sebagai suatu proses pentrasferan ilmu dari seorang dosen kepada para mahasiswanya. Oleh karenanya segala hal yang dianggap “mengganggu” proses pentrasferan itu harus diminimalisir bahkan dinihilkan. Terlebih lagi, pembelajaran dianggap sebagai kerja otak semata tanpa keterlibatan olah rasa dan tubuh. Emosi dan gerakan dianggap sebagai sumber gangguan. Oleh karenanya, pembelajaran dipandang sebagai proses yang mesti “disucikan” dari jenis emosi apapun termasuk bahagia, haru, atau marah. Demikian pula, gerakan-gerakan seperti menari, menyanyi, bermain, atau menggambar. Apalagi konflik dan pertengkaran.

Kondisi pembelajaran itu mengingatkanku pada ritual penurunan ajian pamungkas dari seorang guru silat yang sudah sepuh pada muridnya. Sang guru akan mengajak muridnya untuk mencari tempat hening di tengah hutan, di dalam goa, atau di bawah air terjun. Setelah itu, sang guru akan meminta muridnya untuk bersemedi tanpa makan selama tujuh hari berturut-turut untuk menyucikan jiwa dan raga serta meningkatkan kepekaan indera dan konsentrasi. Pada akhir hari ketujuh, setelah melalui proses yang panjang dan menyakitkan, barulah sang guru berkenan menurunkan ajian pamungkasnya. No pain, no gain. Tampaknya paradigma “penurunan ilmu” ala Ken Arok ini masih memiliki pengikut setia bahkan di era Anis Baswedan. Edan.

Leave a Reply