SAAT SEORANG GURU KEMBALI BERGURU

Based on True Story

Apa yang dimaksud dengan orang hebat? Dan kapan kau akan merasa bahwa dirimu telah berhasil dalam hidup? Sebagai dosen, telah berkali-kali kuajukan dua pertanyaan itu kepada para mahasiswaku. Jawaban yang kudengar dari para anak muda itu pun sangat bervariasi. Sebagian dari mereka mengaitkan kehebatan dan keberhasilan pada kepemilikan materi seperti mempunyai bisnis yang besar dan uang yang banyak. Sebagian yang lain mengaitkannya pada kemampuan meraih prestasi akademik atau popularitas tertentu. Dan masih sebagian yang lain mengaitkannya dengan perasaan puas atau bahagia tanpa penjelasan yang spesifik. Tidak satu pun dari jawaban itu yang memuaskanku. Tidak satu pun. Hingga aku berjumpa anak muda itu di suatu senja pada hari Jumat yang cerah.

Di suatu senja pada hari Jumat yang cerah, aku meninggalkan kantorku dan melintasi jalan raya yang akan membawaku pulang ke rumah. Langit yang keemasan dan jalanan yang sepi, membuat sore itu terasa begitu tenang dan damai. Lelah yang menggelayuti tubuhku semakin membuatku enggan memacu kendaraan. Kumatikan radio di mobilku dan kunikmati suasana sekitar benar-benar. Segalanya berjalan sangat lambat baik di dalam jiwaku maupun di luar.

Sekitar lima menit sebelum tiba di rumah, kecepatan kendaraanku masih juga belum berubah. Jarum di speedometer mobilku tidak melenceng jauh dari angka dua puluh ketika tiba-tiba seorang anak kecil menyeberang jalan di depanku sambil menuntun sepedanya. Dengan lembut, aku menginjak pedal remku. Tidak ada yang istimewa tentang hal itu setidaknya hingga aku dikejutkan oleh suara tumbukan keras dari belakang mobilku. Tumbukan itu membuat tubuhku terlempar beberapa sentimeter ke arah kemudi. Seperti orang yang mendadak dibangunkan dari tidurnya, aku pun terhenyak. Melalui spion tengahku, kulihat bayangan beberapa sepeda motor di belakang mobilku. Aku benar-benar tidak tahu sepeda motor mana yang baru saja menabrak mobilku.

Masih dalam keadaan setengah terkejut, sebuah sepeda motor berhenti di sebelah kiri mobilku. Kuturunkan kaca jendela penumpang depan. Kepalaku terasa kosong. Pengendara sepeda motor itu pun menaikkan kaca helmnya dan berujar “Pak, mobilnya saya tabrak sampai penyok..” “Lalu bagaimana..?” Tanyaku spontan. “Minggir dulu ya Pak.” Ajak pengemudi motor itu dengan nada tegas. Seperti anak kecil yang mendengar perintah Ibunya, aku pun mengikuti anjuran pengemudi motor itu untuk menepi.

Kejadian ini bukan yang pertama kali bagiku. Enam bulan yang lalu seorang wanita pegawai bank swasta menghajar bumper belakang mobilku dengan mobilnya saat aku berhenti di lampu merah. Dengan dalih biaya yang mahal, pegawai bank yang tampak intelek itu enggan memperbaiki mobilku di bengkel resmi. Setelah proses tawar-menawar yang panjang akhirnya kami bersepakat untuk memperbaiki mobilku di sebuah bengkel kecil dekat rumahku. Selama proses perbaikan, tidak terlihat penyesalan atau sikap santun dari pegawai bank itu. Yang ditunjukkannya hanya pembelaan diri dan kecurigaan. Di saat akhirnya mobilku selesai diperbaiki pun, Ia sama sekali tidak mengacuhkanku. Sikap tak acuh itu terus berlanjut hingga setelah aku bersusah payah mengantarkan kembali KTP-nya yang kutahan. Oleh karenanya aku tidak mengharapkan perilaku yang berbeda dari kejadian kali ini. “Tuhan, beri aku kesabaran” panjatku dalam hati.

Setelah menepi dengan aman di samping sebuah apotik, aku pun turun dari mobil dengan gontai. Badanku terasa lemas. Dahi dan tengkukku mulai terasa dingin. Semua itu terasa memburuk saat aku melihat bumper belakang mobilku yang membentuk “kawah” sepanjang 30 sentimeter. Pandanganku pun kualihkan pada pengemudi motor yang baru saja melepas helmnya. Terlihat olehku seorang anak muda yang sebaya dengan kebanyakan mahasiswaku. Perawakannya cukup jangkung dan gagah. Wajahnya yang halus dihiasi oleh alis tebal dan sorot mata yang tajam. Sekilas Ia tampak garang. Aku pun telah menyiapkan hati untuk kembali melalui proses tawar-menawar yang alot dan melelahkan. “Jadi, bagaimana sebaiknya Dik..?” tanyaku setengah pasrah. Namun yang terjadi berikutnya, membuatku benar-benar terkejut.

Kalimat pertama yang keluar dari mulut anak muda itu adalah permohonan maaf. Dilanjutkan dengan pengakuan bahwa dirinya memang tengah mengantuk saat tabrakan terjadi. Ia pun menyatakan akan bertanggung jawab atas segala kerusakan yang diakibatkannya. Kesiapannya itu tidak serta-merta menghilangkan keraguanku. “Tapi Dik, penyok seperti ini akan memakan biaya cukup besar. Perbaikan di bengkel resmi mungkin akan memakan biaya lebih dari 1 juta” ujarku sambil bersiap-siap menerima penolakan. Namun alih-alih penolakan yang aku dengar, pemuda itu malah berujar, “Tidak apa-apa Pak. Saya yang salah. Berapapun biayanya dan di manapun Bapak ingin memperbaiki kerusakan ini, saya akan bertanggung jawab” Ucapnya tegas tanpa keraguan sedikit pun. Aku pun memandang matanya dalam-dalam. Istimewa sekali anak muda ini, ucapku dalam hati. Setelah bertukar nomor kontak dan meminta KTP-nya, kami pun sepakat untuk bertemu kembali pada hari Senin dan bersama-sama membawa mobilku ke bengkel resmi yang kupilih.

Satu minggu setelah kejadian itu, mobilku telah selesai diperbaiki. Hanya saja aku tidak jadi memperbaiki mobilku di bengkel resmi. Aku memperbaikinya di bengkel dekat rumahku dengan biaya yang jauh lebih murah. Dengan sukarela, aku pun bersedia menanggung hampir separuh biaya perbaikan. Entah mengapa hatiku tersentuh. Aku sungguh tidak ingin menyulitkan pemuda istimewa ini. Terlebih lagi setelah aku mengetahui bahwa dirinya hanya seorang tamatan SMA yang bekerja di sebuah supermarket dengan gaji setara UMR. Saat ini Ia sedang berjuang mengumpulkan biaya untuk melanjutkan kuliah karena ayahnya hanya pemilik warung kecil di wilayah kacapiring. Beberapa waktu lalu, keluarganya bahkan kehilangan sejumlah besar uang karena kemalingan. Meski demikian, Ia tetap merasa bersyukur karena menabrak mobilku di hari Ia menerima upah bulanan. Sungguh suatu rahmat bahwa aku dapat bertemu dan belajar dari pemuda ini.

Hari ini aku kembali teringat kejadian itu. Seandainya saja karakter semacam itu juga dimiliki oleh setiap orang yang menjadi pemimpin di negara ini. Keberanian untuk mengakui setiap kesalahan serta kesiapan hati untuk membuktikan setiap ucapan. Bila itu terjadi, mungkin impian menjadi bangsa yang makmur dan sejahtera dapat segera terwujud. Hei, tapi bukankah setiap kita adalah pemimpin? Menyadari itu, aku pun menengadahkan tanganku dan memohon pada Tuhan. Semoga aku diijinkan memiliki karakter semacam itu. Dan semoga Tuhan menjadikan pemuda itu sebagai teladan orang banyak agar kita semua dapat belajar arti hebat sebenarnya. Amin.

Leave a Reply