ARTI HEBAT SEBENARNYA

Based on True Story

Pagi itu adalah pagi di mana kami – para dosen baru – diterima untuk pertama kalinya oleh jajaran manajemen fakultas. Kami dikumpulkan di sebuah ruangan berpendingin dengan tatanan kursi melingkar di sekelilingnya. Acara dimulai dengan perkenalan jajaran manajemen fakultas dan dilanjutkan dengan penjelasan visi, misi, dan tujuan fakultas. Karena kebetulan aku ditugaskan untuk memimpin doa bersama di akhir acara, aku tidak memperhatikan betul penjelasan itu. Aku sibuk komat-kamit di pojok ruangan sambil mencatat kata-kata yang kira-kira pantas dipanjatkan sebagai sebuah doa.

Di saat asyik-asyiknya aku berpujangga-ria, sang MC pagi itu meminta kami untuk memperkenalkan diri kami masing-masing. Setiap orang diminta untuk menyebutkan nama dan latar belakang pendidikannya dimulai dari – ini yang membuyarkan lamunanku – orang yang duduk di pojok ruangan alias aku. Dengan canggung, aku perlahan-lahan berdiri sambil tersenyum kecut dan menelan ludah. Semua orang menatapku seolah aku adalah badut sirkus yang akan diterbangkan dari meriam. Syukurlah semuanya berjalan dengan lancar. Perkenalan diriku pun berlalu sudah. Aku kembali duduk dan mulai menikmati perkenalan diri dosen-dosen baru yang lain.

Dosen-dosen lain memperkenalkan dirinya kurang lebih dengan format yang sama. Nama, latar belakang pendidikan, dan sedikit kata-kata manis di ujung seperti “.. mohon kerja samanya” atau “.. salam kenal”. Sebagian yang lain mampu menyelipkan cerita kecil mengenai siapa mereka dan mengapa mereka memilih bekerja sebagai dosen. “Orang-orang yang menyenangkan” begitu pikirku. Sayangnya pikiran itu tidak bertahan lama berkat dosen baru yang satu ini.

Dosen baru ini adalah seorang wanita kecil bertubuh langsing dengan tinggi badan yang mungkin tidak mencapai 160 cm. Ia mengenakan busana panjang berwarna cerah yang senada dengan kulitnya yang putih. Tidak ada yang luar biasa setidak-tidaknya hingga ia memperkenalkan dirinya pada kami. Setelah memperkenalkan namanya, bak politikus kawakan dari partai besar, wanita ini langsung menguraikan segudang prestasinya. Mulai dari kepiwaiannya membimbing dosen-dosen muda hingga kemahirannya meneliti dan menembus jurnal-jurnal internasional. Aku pun terhenyak.

Ini bukan pertama kalinya aku mendengar perkenalan diri semacam ini. Aku pernah mendengar kisah yang sama keluar dari mulut yang sama kemarin. Ya kemarin, saat para dosen baru menerima pembekalan dari para wakil rektor dan perwakilan yayasan. Pada acara itu, wanita mungil berkulit putih ini juga asyik menonjolkan diri dengan beragam prestasinya yang luar biasa tanpa diminta. Ajaib. Tak pernah kutemui manusia seperti ini sebelumnya.

Seusai acara perkenalan dosen baru berakhir, aku pun kembali ke ruangan. Sambil duduk menatap jendela, “keajaiban” pada acara pagi itu pun kembali menggenangi pikiranku. “Kok ada ya orang yang berupaya menonjolkan diri hingga sejauh itu?” gumamku dalam hati. Terlebih lagi, mengapa seluruh deretan prestasi itu tidak mengundang kekaguman di hatiku? Bukankah selama ini aku juga berupaya mencapai prestasi yang sama? Dan bukankah itu seharusnya menjadikanku sebagai orang yang paling memahami kehebatan wanita itu?

Selepas makan siang, aku pun membagikan cerita pagi itu pada sahabat terdekatku. Sambil tersenyum simpul, ia pun bertanya, “Seandainya kamu mengetahui beragam prestasi itu dari sumber lain seperti curriculum vitae , apakah kamu akan merasa kagum?” Sambil menghela nafas, aku menjawab, “Hmm… pastinya saya akan merasa kagum.” “Lalu apa yang membuat kamu tidak dapat mengagumi dosen baru itu?” sambung sahabatku. “Entahlah..” jawabku tak acuh. Dengan cepat ia pun melanjutkan, “Mana yang lebih kamu kagumi? Dosen baru itu atau seorang tukang sampah yang bekerja keras karena Ia enggan mengemis makanan dari orang lain?” “Umm… kayaknya sih orang yang terakhir deh…” gumamku seraya berpikir. “Nah, itulah arti dari hebat yang sebenarnya” sahut sahabatku penuh arti.

Leave a Reply