“KARYA” BUKAN SEKEDAR HURUF “A”

Based on True Story

Hari itu merupakan salah satu hari tersibuk dalam rutinitasku sebagai dosen manajemen bisnis di salah satu universitas yang cukup ternama. Lembar-lembar ujian akhir semester (UAS) mahasiswa bersebaran memenuhi meja kerjaku. Sebagian bahkan terjatuh dan berserakan di lantai. Ya, bagi seorang dosen periode pemberian nilai mungkin adalah masa-masa yang paling menyiksa. Terlebih bila nilai yang menghiasi lembar ujian tidak jauh dari notasi fa, sol, dan la. “Gila, dari mahasiswa sebanyak ini hanya lima orang yang layak mendapat nilai A” pikirku sambil merebahkan punggung ke atas sandaran kursi. “Ah mungkin aku memang bukan dosen yang baik” keluhku pasrah. Segumpal rasa bersalah menyumbat tenggorokanku.

Tanpa terasa hari beranjak senja. Jam di tanganku menunjuk angka 6 lewat lima. Setelah seharian bergumul dengan lembar ujian, aku pun bergegas merapihkan barang-barang dan bersiap untuk pulang. Dengan cepat aku melangkah menuju lift, turun ke lobi, dan meninggalkan gedung fakultasku yang sudah mulai gelap dan sepi. Baru setengah jalan menuju parkiran, terlihat olehku pemandangan gedung seberang yang masih terang-benderang. Para mahasiswa tampak hilir-mudik dan duduk-duduk di sekitar lobi. “Kok ramai sekali? Ada acara apa ya?” tanyaku dalam hati. Diundang oleh rasa penasaran yang kuat, aku pun segera meletakkan barang-barangku di dalam mobil, menguncinya rapat-rapat, lalu berjalan memasuki gedung yang sejak 2 tahun lalu menjadi pusat studi industri kreatif itu.

Setelah 5 menit berkeliling di lantai dasar, aku berpapasan dengan salah seorang rekan dosen di gedung itu. Setelah menyapa dengan setengah membungkukkan badan, aku pun bertanya tentang penyebab dari keramaian di fakultasnya. Sambil tersenyum ramah, ia menjawab singkat, “Ah ini mah cuma UAS kok Pak”. Jawaban itu langsung membuatku terkejut. “Cuma UAS? Lha kok bisa sampai selarut ini?” ulangku spontan. “Iya Pak, soalnya sejak seminggu sebelum ujian, mahasiswa sudah diminta untuk merancang sebuah produk yang harus dikumpulkan pada hari ujian. Untuk mengembangkan produk, waktu satu minggu itu sudah sangat mepet. Padahal bagi mahasiswa saya, nilai dan IPK itu tidak terlalu penting. Yang penting itu kualitas portofolio” urainya panjang lebar. “Eh maaf, portofolio itu apa ya Pak?” sambungku menahan malu. “Portofolio itu ya semacam kumpulan karya yang dihasilkan mahasiswa selama mereka menempuh studi di sini. Portofolio ini yang biasanya dianggap penting oleh industri”. Mendengar itu, aku pun tertegun.

Dalam perjalanan pulang, di balik kemudi mobil, lagi-lagi aku teringat kata-kata rekanku itu. Pernyataannya seperti memutar-balikkan seluruh sistem kepercayaanku selama ini. Memang, selama ini aku hidup dalam tatanan masyarakat yang mengukur kemampuan seorang siswa berdasarkan nilai dan bukan dari karya yang dihasilkan. Mereka yang ber-IPK (indeks prestasi kumulatif) tinggi diasumsikan akan mudah mencari kerja, naik pangkat jadi manajer, lalu diangkat sebagai direktur, bahkan mungkin menjadi pejabat tinggi negara. Tidak heran bila banyak kutemui para mahasiswa di fakultasku yang sudah puas dengan menggenggam IPK di atas 3,5. Mereka enggan untuk membawa ide-ide bisnis yang mereka tuangkan di ruang-ruang kelas, halaman-halaman makalah, atau lembar-lembar ujian ke dalam dunia nyata. Alasannya? Ide-ide itu ada hanya sebagai syarat dari munculnya huruf A di transkrip nilai, bukan untuk diwujudkan. Mungkin mereka lupa bahwa dunia selalu berubah dan asumsi-asumsi lama yang masih dipegang teguh, kini sudah tidak bekerja lagi. Bahwa seseorang tidak lagi dinilai dari huruf yang muncul di transkrip nilai tapi dari karya nyata yang pernah diwujudkan. Bahwa jarak antara ruang kelas dengan dunia nyata sudah semakin tipis. Bila memang itu yang terjadi, mental yang penting A” ini mungkin dapat menjelaskan tingginya pengangguran terdidik di negeri ini. Jadi?

Leave a Reply